Aku tak tahu, sampai kapan rasa ini melekat di dinding hatiku. Tumbuh berkembang dengan sendirinya, mungkin seperti benalu. Yang hanya mendapat keuntungan dari yang lain. Tanpa berpikir, merasakan, dan memahami maksudnya apa . Membiarkan mengikisnya sedikit demi sedikit hingga perih terasa. Hatiku begitu bodoh, Bodoh karena membiarkan dirinya tersakiti. Walau terkadang pikirku sering meronta-ronta karena ulahnya yang berbanding terbalik dengan akal sehatku. Tapii, hatiku tetap bertahan. Bertahan walau tahu pada akhirnya akan menyusut hingga habis waktu. Seperti lilin yang rela menghabiskan waktunya agar tetap membagi sinarnya kepada insan yang menyalakannya.
Lantas, kegilaan-kegilaan apa lagi yang akan kulakukan jika perasaanku masih tak menentu seperti ini ?? Kamu masih ingat, 18 Februari 2012 ?? Uring-uringan sendiri, mencari celah agar aku bisa terbebas dari rasa yang menggerogotiku kini. Rasanya seperti ada tekanan. Seolah menahan sebuah batu besar yang nyaris jatuh menimpaku dan aku masih saja berusaha menahannya agar batu itu tidak melukaiku, sejauh ini masih belum berhasil. Dan kini hanya diam menguasai diriku. Diam bukan berarti tak tahu apa-apa, bukan karena tidak ada masalah, dan bukan juga saat dimana kita berada dalam zona nyaman. Kebanyakan ahli filsafat mengartikan seperti itu. Dalam diam, pikiranku justru sangat sibuk melawan setiap tekanan dihatiku. Menahan setiap emosi jiwa yang terus mencercaku. Hanya kepada helaian kertas aku bercerita. Meluapkan semua emosi. Aku kacau, tak beraturan. Dan aku pikir semuanya karena aku tak bisa mengalihkan rasaku terhadapmu. Dan hari itu, ada surat untukm...
Inilah kamu di dunia nyataku, Kamu tidak pernah menyadari sosokku. Dan kamu tahu, betapa sulitnya untuk tidak melihatmu.? Posisiku hanyalah orang yang kamu kenal namanya. Yah, hanya itu yang kamu tahu dariku. Sedangkan aku ? aku mengetahui segalanya tentang kamu. Hobbymu, tanggal lahirmu, tempat tinggalmu, keluargamu, plat motormu, nomor ponselmu pun aku hafal, dan hal hal yang sama sekali kamu tidak sangka aku akan mengetahuinya. Jangan samakan aku dengan penguntit. Aku hanya menyukaimu dari jauh. Dan mungkin juga akan mencintaimu dari jauh. Dari sudut sini aku diam-diam mencintaimu. Aku tidak mengerti, mengapa mataku selalu saja mencari-cari dirimu. Dan kenapa tubuhku tiba-tiba kaku dan jantungku terasa ingin meledak saat kita berhadapan. Mungkin aku yang terlalu berlebihan menanggapi pertemuan singkat itu. Aku tidak tahu alasan aku mencintaimu. Dan apakah seseorang harus mempunyai alasan untuk mencintai orang lain ? aku mencintaimu tanpa alasan. Aku se...