Aku tak tahu, sampai kapan rasa ini melekat di dinding hatiku. Tumbuh berkembang dengan sendirinya, mungkin seperti benalu. Yang hanya mendapat keuntungan dari yang lain. Tanpa berpikir, merasakan, dan memahami maksudnya apa . Membiarkan mengikisnya sedikit demi sedikit hingga perih terasa. Hatiku begitu bodoh, Bodoh karena membiarkan dirinya tersakiti. Walau terkadang pikirku sering meronta-ronta karena ulahnya yang berbanding terbalik dengan akal sehatku. Tapii, hatiku tetap bertahan. Bertahan walau tahu pada akhirnya akan menyusut hingga habis waktu. Seperti lilin yang rela menghabiskan waktunya agar tetap membagi sinarnya kepada insan yang menyalakannya.
Awal tahun 2011 pertama kalinya aku mellihatmu, Ketika aku dan teman-temanku nongkrong dipersimpangan jalan dekat sekolah. Orang-orang menyebut tempat itu dengan sebutan ‘ronda kuning’. Setiap harinya sepulang sekolah aku berkumpul bersama teman-temanku ditempat itu. Kamu pun lewat dihadapanku dengan singkat tapi aku sempat merekam sosokmu yang berlalu begitu cepat. Wajah luguh yang sempat kamu palingkan ke arahku sesaat membuatku tak berkedip, detak jantungku pun berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Apa yang terjadi barusan ?? Seketika aku mendadak jadi aneh ! Perasaan apakah itu ?? Aku sendiri bingung menafsirkannya. Kejadian-kejadian itu terus berulang di hari selanjutnya. Hingga aku mulai tertarik dengan sosokmu yang teramat misterius. Aku tanyakan kepada teman-temanku tapi tak satupun dari mereka yang mengenalmu. Aku pikir kamu siswa dari sekolah lain yang hanya kebetulan lewat di hadapanku waktu itu. Yah, mungkin saja begitu. Dan sejak saat itu pikiranku mulai...
Tempat itu mengingatkanku pada suatu masa dimana hanya ada aku dan kamu. Tempatnya sederhana, hanya terdapat sebuah tempat duduk tembok panjang serta beberapa jenis bunga yang hidup disana. Tepatnya didepan perpustakaan sekolah kita. Orang-orang menyebutnya ‘taman baca’. Aku masih ingat, pada musim try out dikelas lama kita. Senyum pertama yang kamu persembahkan kepadaku, tepatnya didepan pintu kelas, kamu berdiri santai dengan tas coklat dipunggung. Tas coklat yang satu-satunya milikmu yang menyadari keberadaanku dibelakangmu. Tas coklat yang setiap harinya tersenyum kepadaku ketika aku masih tetap terjaga dibelakangmu. Pertama kalinya kamu menyapaku dengan kata ‘hai’. Pertama kalinya aku mendengar suaramu, dimana suara itu hanya untuk aku, untuk aku jawab, dan untuk aku pahami. Pertama kalinya aku jalan disampingmu, begitu dekat. Kau tahu saat itu, jantungku rasanya ingin meninggalkan tempatnya, berlari, dan sembunyi. Semua hal yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya te...