Aku tak tahu, sampai kapan rasa ini melekat di dinding hatiku. Tumbuh berkembang dengan sendirinya, mungkin seperti benalu. Yang hanya mendapat keuntungan dari yang lain. Tanpa berpikir, merasakan, dan memahami maksudnya apa . Membiarkan mengikisnya sedikit demi sedikit hingga perih terasa. Hatiku begitu bodoh, Bodoh karena membiarkan dirinya tersakiti. Walau terkadang pikirku sering meronta-ronta karena ulahnya yang berbanding terbalik dengan akal sehatku. Tapii, hatiku tetap bertahan. Bertahan walau tahu pada akhirnya akan menyusut hingga habis waktu. Seperti lilin yang rela menghabiskan waktunya agar tetap membagi sinarnya kepada insan yang menyalakannya.
A wan mulai menampakkan wajahnya. N an indah tersenyum kepadaku. D iam sejenak dalam angan. I ringi senyum yang takkan pudar. N yanyian kicau burung di pagi ini. U rutkan asa yang menggebu. R asakan nikmat yang Engkau beri. A ndai semua orang menghargai. S etiap deraian terindah goresan dari-Mu. I ndahkan setiap masa yang terlewati. A ku ingin keindahan ini akan selalu mewarnai hidupku. H ingga saatnya aku terlelap dalam masa itu.
Hai, bagaimana kabarmu hari ini ?? Aku harap kamu baik-baik saja. Sama baiknya saat terakhir kali kita bertemu. Sore ini, aku duduk dibalik jendela sembari menatap langit. Entah kenapa hari ini langit begitu indah. Dihiasi oleh angin kesejukan yang begitu ramah menerpa wajahku. Saat ini aku menunggu kabar darimu, tapi nampaknya yang ku tunggu tak jua hadir. Mungkin kamu sedang disibukkan oleh rutinitas barumu kali ini. Aku ingin bercerita, tentang waktu yang selalu memanjakanku. Tapi waktu itu tak bisa hadir jika tak ada kamu didalamnya. Perhatian kecil yang kamu berikan adalah hal ternyaman yang pernah ku rasakan. Aku tak pernah berpikir untuk memerhatikan diriku sebaik mungkin. Tapi kamu selalu punya cara untuk membuat diriku selalu baik-baik saja. Terimakasih untuk selalu ada untukku. Bahkan disedikit waktu yang kamu punya.