Postingan

Penantian Yang Tertunda

Gambar
Tik, tik, tik, Jam dinding masih berdetak. Waktu begitu sangat cepat. Tak terasa seminggu tlah berlalu. dan selama itu aku menahan diri untuk tidak melihatmu. rasanya sangat sulit menata hari-hariku sendiri. Mengenangmu hanya membuatku terluka. Dan sekarang tanggal 27 april 2013, aku semakin takut. Aku takut tak bisa melihatmu lagi. Akupun takut tak bisa melihat senyum itu lagi. Dan siapa lagi yang akan ku perhatikan kelak jika kamu sudah tak disini lagi. Akupun tak bisa jamin, jika suatu saat nanti kau akan menengokku, atau setidaknya mengirim pesan untukku, tanyakan kabarku atau hanya sekadar basa-basi. Karena seperti biasanya, bahkan hari ini juga tak ada pesan untukku. Aku sudah menunggu dari hari-hari sebelumnya. tapi hingga detik ini juga pesan singkat yang ku harapkan tak jua datang. Apakah kau benar-benar melupakanku ?? L Sulit ku percaya, bagaimana mungkin ku selalu merindukan orang yang melupakanku ? Dan aku sering mengatakan : “ percuma ada rindu jika t...

Senyum Untuk Pagi

A wan mulai menampakkan wajahnya. N an indah tersenyum kepadaku. D iam sejenak dalam angan. I ringi senyum yang takkan pudar. N yanyian kicau burung di pagi ini. U rutkan asa yang menggebu. R asakan nikmat yang Engkau beri. A ndai semua orang menghargai. S etiap deraian terindah goresan dari-Mu. I ndahkan setiap masa yang terlewati. A ku ingin keindahan ini akan selalu mewarnai hidupku. H ingga saatnya aku terlelap dalam masa itu.

Harapku

  M ungkin hanya sebuah kata singkat. U ntuk aku ungkapkan. S egenggam impian dan angan. D erai canda tawa senantiasa terlukis di bibirmu. A kan sangat bermakna dalam memory ku. L embutnya sikapmu. I ndah melekat dalam sukmaku. F irasat ini meyakinkan ku. A dakah kesempatan untukku ? H ening mulai merasuk jiwa. A ku hanya bisa berdoa. R asa ini kan terbalaskan. I ringi langkah ku yang tak tentu arah. F irasat untuk memilikimu.

Di Ujung Senja

Gambar
R ona merah di senja hari. U ngkapkan masa yang tlah lalu. S aat aku menutup mata ini. N ampak gelap menyelubungi jiwa. I ntan pun mulai pudar. T anpa sadar bibir ini basah dengan senyuman. A kankah selamanya seperti ini ?? R umput pun ikut tersenyum. U ntuk menyadarkanku bahwa. S esungguhnya kegelapan dan mendung itu hanya sementara. L ayaknya malam ditelan siang. A ku hanya terdiam menatapnya. N amun rasa itu   masih saja hidup. G era- gerik, canda, dan tawa.